Tampilkan postingan dengan label KONSEP GAWAT DARURAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KONSEP GAWAT DARURAT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Maret 2020

PERAWAT DI SETTING IGD



Lingkungan kerja  di instalasi gawat darurat
Instalasi gawat darurat adalah unit pelayanan rumah sakit yang memberikan pelayanan pertama pada pasien dengan ancaman kematian dan kecacatan secara terpadu dengan melibatkan berbagai multidisiplin (Depkes, 2005). Instalasi gawat darurat yang merupakan pintu utama sebuah rumah sakit yang diharapkan mampu memberikan pelayanan darurat dengan standar yang tinggi kepada masyarakat (Rumah Sakit Saiful Anwar, 2012).
Angka morbiditas dan mortalitas pasien dengan kondisi gawat tergantung pada cepat dan tepatnya pelayanan pertama yang didapatkan di instalasi gawat darurat (Schriver et al, 2003). Menurut data World Health Organization pada tahun 2011 mencatat bahwa 30% kasus kematian pasien di pelayanan gawat darurat disebabkan karena cedera dan 45% karena penyakit dalam. Namun belum ada riset yang pernah dilakukan untuk mencatat mengenai kepuasan pasien terhadap pelayanan gawat darurat di Indonesia.
Penanganan pasien gawat di ruang gawat darurat memerlukan tindakan yang bersifat cepat dan memerlukan tindakan tepat (Blair & Smith, 2012). Perawat gawat darurat dituntut harus dapat mengkaji pasien trauma akibat kecelakaan dan ruda paksa dengan cepat sambil merencanakan intervensi serta berkolaborasi dengan dokter gawat darurat dalam rentang waktu yang relatif singkat. Perawat gawat darurat juga dituntut untuk mampu melakukan dan mendokumentasikan tindakan medis dan tindakan keperawatan termasuk waktu sesuai dengan standar yang disetujui.
Instalasi gawat darurat terkait dengan tuntutan kondisi kerja yang tinggi memiliki permasalahan yang rumit. Menurut Beecroft (2008) instalasi gawat darurat memiliki permasalahan turnover yang tinggi, hal ini disebabkan karena lingkungan instalasi gawat darurat yang penuh dengan tekanan beban kerja yang tinggi, hubungan perawat dengan teman sejawat yang kurang harmonis dan tuntutan yang tinggi terhadap kemampuan perawat dalam melakukan pelayanan. Hal tersebut juga didukung oleh pendapat Patterson (2010) yang mengatakan bahwa instalasi gawat darurat adalah tempat yang paling rumit dan sibuk. Itu sebabnya mengapa di instalasi gawat darurat memiliki burnout perawat dan turnover yang tinggi. Burnout dan turnover yang tinggi berdampak pada kekurangan staf perawat yang akhirnya rasio perawat dan pasien meningkat (Schriver, 2003; Spooner-Lane, 2004; Kart, 2009; Berezuik, 2010).
Menurut Schriver et al (2003) beberapa upaya dan solusi yang dapat dilakukan untuk menghadapi masalah di instalasi gawat darurat adalah dengan : memperbaiki beban rasio antara perawat dengan pasien, mengembalikan fungsi tugas perawat sebagai pemberi pelayanan keperawatan kepada pasien beserta keluarganya, mengembangkan sikap saling mendukung dan kekeluargaan antar sesama perawat dan dokter, membuat penjadwalan shift dengan lebih efisien, meningkatkan kesejahteraan perawat serta ikut terlibat dalam pengembangan pendidikan keperawatan melalui praktek
 Kompetensi perawat instalasi gawat darurat
Kompetensi adalah suatu proses perubahan dan pengembangan kemampuan yang berkelanjutan (Reid, 2010). Masih menurut Reid (2010) komponen utama dan esensial dari terbentuknya kompetensi suatu ketrampilan adalah integrasi yang baik antara domain kognitif, psikomotor dan afektif. Komponen afektif merupakan komponen yang sangat penting dalam membentuk suatu kompetensi dimana afektif akan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Kompetensi menggambarkan tindakan atau perilaku individu yang kompeten (Tilley, 2008). Kompetensi merupakan topik yang menarik dalam lingkup pendidikan keperawatan dimana kompetensi adalah salah satu strategi untuk menyelesaikan jurang antara teori dan praktek.
Kompetensi perawat gawat darurat adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh seseorang perawat gawat darurat untuk melakukan tindakan dengan didasarkan pengkajian secara komprehensif dan perencanaan yang tepat dan lengkap (Depkes, 2005). Kompetensi ini bukan prosedur tindakan tetapi kompetensi perawat harus diikuti dan dilaksanakan sesuai dengan standar prosedur operasional (Berezuik, 2010). Kompetensi tersebut meliputi pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang harus ditingkatkan atau dikembangkan dan dipelihara sehingga menjamin perawat dapat melaksanakan peran dan fungsinya secara profesional (Reid, 2010). Menurut Depkes (2005) persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi pembimbing klinik di instalasi gawat darurat adalah sehat jasmani dan rohani, pendidikan S1 keperawatan pengalaman kerja 3 tahun atau D3 keperawatan ditambah pengalaman kerja minimal 5 tahun, memiliki sertifikat sebagai pembimbing klinik / Clinical Instructor (Lambert & Glacken, 2004), memiliki sertifikat pelatihan keperawatan gawat darurat basic 2 atau advance (Kepmenkes, 2008), mempunyai pengalaman kerja di ruang gawat darurat minimal 5 tahun (Schriver et al, 2003)

Konsep teori keperawatan novice to expert Patricia Benner
Pada penelitian ini, kerangka teori keperawatan yang digunakan adalah teori model Patricia Benner “From Novice to Expert: Excellence and Power in Clinical Nursing Practice”. Hal ini disebabkan karena teori ini konsisten dalam pengembangan pengetahuan mengenai praktek klinik keperawatan sehingga sesuai dengan tema penelitian yang akan dilaksanakan peneliti terkait pembimbing klinik. Model teori Patricia Benner diklasifikasikan dalam philosophical theory atau meta theory karena berfokus pada pertanyaan-pertanyaan falsafah dan metodologis terkait dengan pengembangan teori dasar keperawatan dan berhubungan dengan bagaimana pengetahuan dapat diaplikasikan dalam praktek keperawatan (Alligood & Tomey, 2006; Altmann, 2007).
Benner (1984) menyatakan konsep From Novice to Expert: Excellence and Power in Clinical Nursing Practice menguraikan bahwa untuk menjadi perawat ahli perlu mengembangkan ketrampilan dan memahami tentang perawatan pasien disepanjang waktu yang dapat diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman banyak. Benner mengatakan bahwa salah satu cara memperoleh pengetahuan dan ketrampilan melalui (“knowing how”) serta belajar teori (“knowing what”). Alasannya adalah mengembangkan ilmu pengetahuan dalam disiplin ilmu terapan seperti yang terjadi pada kedokteran dan keperawatan merupakan perluasan pengetahuan praktek yang dapat dilakukan melalui penelitian serta pemahaman dari “knowing how” dalam pengalaman klinik. Intinya adalah pengalaman merupakan prasyarat untuk menjadi ahli (Dracup & Brown, 2004)
Patricia Benner dalam teori “From Novice to Expert: Excellence and Power in Clinical Nursing Practice banyak dipengaruhi oleh “The Skill Acquisition Theory” yang dikembangkan oleh Hubert Dreyfus dan Stuart Dreyfus pada tahun 1986 (Gobet & Chassy, 2006). Selain adaptasi model yang dikembangkan oleh Hubert Dreyfus dan Stuart Dreyfus, pemikiran Patricia Benner juga banyak dipengaruhi oleh teori model “human basic need” yang dikembangkan oleh Virginia Henderson. Dari adaptasi model tersebut Benner menguraikan 5 tingkatan keahlian yaitu novice, advance beginner, competent, proficient, dan expert.  Adapun tingkatan tersebut selanjutnya akan dibahas pada paragraf di bawah ini.
Pada tingkat pertama adalah novice dimana novice masih dalam kondisi belum memiliki pengalaman dan mereka berharap dapat melakukan tindakan. Perawat novice bekerja berdasarkan instruksi dan bersifat “context free”. Hal tersebut mengakibatkan perawat novice bekerja dengan terbatas dan tidak fleksibel (Gobet & Chassy, 2006). Contohnya adalah pemula yang diperlakukan sebagai seseorang yang belum memiliki pengalaman didalam aplikasi aturan maka pemula dapat berkata “Langsung katakan saja apa yang harus saya lakukan dan saya akan melakukannya” (Benner, 1984). Novice menurut Benner (1984) mulai belajar untuk mengenal situasi nyata dan mengutamakan ketrampilan yang khusus dan tindakan mereka didasari atas fakta dan keutamaan (Lyneham, Parkinson, & Denholm, 2008), memiliki kesetiaan yang kaku untuk belajar peraturan serta tidak memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan (Jones, 2007).
Pada tingkat kedua setelah novice adalah advance beginner dimana  ciri dari advance beginner dalam model ini adalah masih bisa menunjukkan penampilan dalam mengatasi masalah yang masih dapat diterima dalam situasi nyata, mempunyai mentor, mengalami situasi penting yang berulang-ulang, serta mempunyai pengalaman yang cukup dalam menghadapi suatu situasi dan didasarkan atas pengalaman (Benner, 1984). Advance beginner mampu untuk mengenali suatu situasi secara global dan dipengaruhi oleh pengalaman (Lyneham et al, 2008). Fungsi perawat pada situasi ini dipandu dengan aturan dan berorientasi pada penyelesaian tugas. Mereka akan kesulitan memegang pasien tertentu pada situasi yang memerlukan perspektif lebih luas. Situasi klinis yang ditunjukkan oleh perawat advance beginner dipersepsikan sebagai ujian terhadap kemampuannya dan merupakan permintaan dari pasien yang membutuhkannya. Advance beginner mempunyai tanggung jawab yang lebih besar untuk melakukan manajemen asuhan keperawatan pasien karena mereka mempunyai lebih banyak pengalaman sebelumnya (Jones, 2007).
Pada tingkat ketiga adalah Competent. Tingkat Competent adalah bila advance beginner dapat menyelesaikan pembelajaran dari situasi praktik aktual dengan mengikuti kegiatan yang lain (Gobet & Chassy, 2006). Tahap competent ditandai dengan adanya kemampuan mempertimbangkan dan membuat perencanaan jangka panjang dalam suatu situasi tertentu dan sudah dapat dilepaskan untuk bekerja mandiri. Tahap ini melambangkan perawat yang telah memiliki pekerjaan yang sama atau situasi yang sama selama 2 atau 3 tahun, berkembang ketika perawat mulai memandang tindakannya telah mencapai sasaran, atau secara sadar mempunyai rencana dalam tindakannya (Benner, 1984). Konsisten, kemampuan memprediksi, dan manajemen waktu adalah penampilan pada tahap competent. Perawat competent dapat menunjukkan tanggung jawab yang lebih terhadap respon pasien, lebih realistik, analitik meskipun masih abstrak dan dapat menampilkan kemampuan kritis pada dirinya.
Tingkat competent adalah tingkatan yang penting dalam pembelajaran klinis, karena pembimbing harus mengembangkan pola terhadap elemen atau situasi yang membutuhkan perhatian (Alligood & Tomey, 2006). Competent harus mengetahui alasan dari pembuatan perencanaan dan prosedur pada situasi klinis. Untuk dapat menjadi proficient, maka competent harus diizinkan untuk memandu respon terhadap situasi. Point pembelajaran yang penting pada tingkatan competent adalah untuk melatih perawat untuk melakukan transisi dari competent ke proficient. Perawat competent memiliki kepercayaan diri dan kemampuan untuk mengatasi situasi keperawatan yang luas tetapi tetap memiliki kekurangan dalam kecepatan dan fleksibilitas (Lyneham et al, 2008).
Tahapan berikutnya adalah proficient. Perawat proficient dapat merasakan situasi kerja sebagai keutuhan bukan lagi sebagai potongan-potongan. Kepandaian perawat memahami situasi sebagai keutuhan karena mereka merasa hal tersebut memiliki arti untuk tujuan jangka panjang (Alligood & Tomey, 2006). Perawat poficient belajar dari pengalaman dengan banyak peristiwa yang diharapkan mampu memberi kontribusi dan memiliki pengalaman bagaimana perencanaan membutuhkan modifikasi respon dalam peristiwa ini. Perawat proficient juga mampu mengenali ketika harapan tentang gambaran normal tidak terwujud (Benner, 1984). Proficient memandang situasi secara holistik dan tidak lagi dilihat sebagai aspek (Jones, 2007). Pengertian holistik ini meningkatkan kemampuan dalam pembuatan keputusan bagi perawat proficient, namun hal ini menjadi sedikit kendala karena perawat memiliki perspektif tentang sifat dan aspek terhadap situasi dimana juga merupakan hal yang penting (Benner, 1984). Perawat proficient mampu mengatur dan memahami situasi permasalahan secara intuisi, namun masih tetap membutuhkan pemikiran analitis dalam memilih suatu tindakan (Gobet & Chassy, 2003). Praktek dari perawat proficient adalah analisis dan fleksibel serta merupakan perawat yang dapat mengenali ketika harapan tentang gambaran normal tidak terwujud (Lyneham et al, 2008).
Tahap selanjutnya setelah proficient adalah expert. Pada tahap expert, perawat tidak lagi mengandalkan prinsip-prinsip analitik (aturan-aturan, pedoman) untuk menghubungkan atau memahamkannya pada situasi yang membutuhkan tindakan yang tepat (Jones, 2007). Perawat expert dengan latar belakang pengalaman yang sangat banyak, mempunyai pegangan instuisi di tiap-tiap situasi (Lyneham et al, 2008). Penampilannya menjadi fleksibel dan terlihat memiliki kepandaian yang tinggi. Namun tidak dapat dikatakan bahwa perawat expert tidak pernah memakai alat analisis untuk memutuskan tindakan yang tepat. Kemampuan menganalisis digunakan untuk situasi dimana perawat belum memilliki pengalaman sebelumnya. Alat analisis dibutuhkan ketika perawat expert mendapatkan pedoman yang salah tentang situasi dan menemukan bahwa kejadiaan dan perilaku tidak terjadi sesuai harapan. Ketika pandangan alternatif tidak tersedia maka jalan keluar untuk mengatasi pedoman yang salah adalah dengan menggunakan analisis penyelesaian masalah (Benner, 1984).
Pada tahap expert, perawat tidak hanya sadar dalam menjalankan praktek mereka, namun telah menjadi bagian dari hidup mereka (Benner, 1984). Selain melihat perawatan pasien sebagai potongan-potongan informasi, perawat expert mampu menyatukan berbagai macam aspek perawatan pasien kedalam keutuhan yang bermakna (Alligood & Tomey, 2006). Perubahan kualitatif pada expert adalah “mengetahui pasien” yang berarti mengetahui tipe pola respon dan mengetahui pasien sebagai manusia. Aspek kunci pada perawat expert adalah menunjukkan pegangan klinis dan sumber praktis, mewujudkan proses know-how, melihat gambaran yang luas, melihat yang tidak diharapkan.
Teori model Benner memiliki kekuatan dan kelemahan. Kekuatan dari teori ini adalah teori ini bersifat sederhana, mudah dipahami dan memberi wawasan yang komplek mengenai hubungan antara teori dan praktek keperawatan (Gobet & Chassy, 2006). Namun teori model ini juga tidak luput dari kelemahannya. Banyak para tokoh teori keperawatan menyatakan bahwa model teori Benner adalah falsafah karena penelitiannya merupakan penelitian kualitatif dan tidak bisa divalidasi dengan kuantitatif (Alligood & Tomey, 2006). Model ini juga didasarkan pada narasi individu sehingga lebih dekat dengan pengakuan, dengan demikian subjek bisa melebih-lebihkan atau memanipulasi agar harapannya dapat tercapai. Narasi yang digunakan sebagai dasar untuk menggali kenyataan harus diuji secara empirik untuk dijadikan teori (Altmann, 2007). Berikut adalah bagan mengenai urutan kemampuan novice to expert

Teori Patricia Benner mengenai novice to expert telah banyak digunakan sebagai kerangka kerja teori dari beberapa penelitian mengenai pendidikan praktek klinik keperawatan baik dalam konteks program pembelajaran mahasiswa keperawatan maupun perekrutan perawat baru di rumah sakit (Gobet & Chassy, 2006). Dalam menemukan teori modelnya, Benner banyak melakukan riset kualitatif dengan pendekatan hermeneutik interpretatif Heidegger. Pada kurun tahun 1996 sampai 1997 Benner melakukan sebuah riset kualitatif fenomenologi interpretatif terhadap 76 orang perawat sebagai partisipan yang diambil dari 6 rumah sakit berbeda. Dari sinilah hasil riset kualitatif Benner menghasilkan pemikiran baru yang lalu dibukukan dalam “Clinical Wisdom In Critical Care” (Alligood & Tomey, 2006). Dari penelitian tersebut dicantumkan ada 9 domain yang berhubungan dengan kompetensi perawatan dasar pasien di ruang emergency antara lain : mendiagnosa dan menangani pasien kritis yang tidak stabil, memiliki kompetensi dalam manajemen krisis, melakukan tindakan yang nyaman bagi pasien kritis, caring terhadap keluarga pasien, dapat melindungi pasien dari lingkungan yang tidak aman, dapat menghadapi kondisi pasien yang sekarat, dapat berkomunikasi dan bernegoisasi dengan disiplin ilmu yang terkait, mengontrol kualitas pelayanan dan yang terakhir adalah mampu menggunakan skill “ know – how” dalam kepemimpinan, mentoring terhadap rekan sejawat dalam setting praktek klinik.
Namun sebelum tahun 1996 Benner telah melakukan penelitian kualitatif selama kurun waktu 6 tahun dan melibatkan 130 perawat kritis (Alligood & Tomey, 2006). Hasil penelitian tersebut menghasilkan teori model yang kemudian dibukukan dalam “Expertise in Nursing Practice”. Tujuan dari riset ini adalah untuk menggambarkan pengetahuan yang diterapkan di praktek klinik, menggambarkan ketrampilan dasar yang harus dimiliki perawat kritis, mengidentifikasi hambatan institusi dan hambatan sumber daya terhadap perkembangan kemampuan ketrampilan praktek klinik dan yang terakhir adalah untuk menyusun strategi pendidikan yang dapat meningkatkan perkembangan ketrampilan keperawatan. 
Penelitian yang lain adalah sebuah studi survey diskriptif dilakukan oleh Reid (2010) mengenai persepsi perawat senior terhadap kompetensi perawat pemula di setting critical care. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawat senior yang bekerja di setting perawatan kritis memiliki persepsi yang baik terhadap juniornya. Dari 6 kategori instrumen (six-D Scale) hasil tertinggi adalah pada hubungan interpersonal sedangkan hasil terendah pada penilaian kepemimpinan. Hal ini wajar karena sebagai perawat junior yang baru lulus, mereka harus dapat segera beradaptasi dengan lingkungan kerjanya baik itu pada komponen beban kerjanya maupun budaya kerja yang sudah terbentuk.
Kerangka teori model Benner juga telah diadopsi dalam kaitannya mengenai bagaimana pengalaman perawat expert yang mendapat tugas untuk menjadi pembimbing klinik. Cangelosi et al (2009) membuat suatu penelitan kualitatif mengenai pengalaman seorang perawat saat ditunjuk menjadi pembimbing klinik. Penelitian dilakukan dengan pendekatan fenomenologi interpretatif dan menggunakan kerangka teori novice to expert dari Patricia Benner. Dari hasil penelitian tersebut dari jumlah partisipan sebesar 45 orang ada tiga tema yang diungkap yaitu perawat yang ditunjuk menjadi pembimbing klinik harus tetap belajar bagaimana mengajar dan membimbing yang baik (mentoring in the dark), Peran sebagai pembimbing klinik merupakan peran baru bagi mereka dan meskipun mereka ekspert sebagai perawat di instalasi gawat darurat akan tetapi mereka masih novice dalam peran sebagai pembimbing (embracing the novice), Mempelajari peran yang baru sebagai pembimbing klinik membutuhkan usaha yang lebih bagi mereka karena mengajar sebenarnya memerlukan niat dan ketulusan hati (buckle your seatbelt).
Mengajar bukanlah sesuatu yang didasarkan pada pengalaman klinik akan tetapi memerlukan ketrampilan tersendiri (Cangelosi et al, 2009). Perawat yang mendapat peran baru sebagai pembimbing klinik tetap akan memasuki tahapan –tahapan sesuai dengan kerangka kerja benner yaitu “novice to expert”  Perawat dengan peran barunya sebagai pembimbing klinik juga mengalami tekanan kecemasan dan rasa takut yang disebabkan ketidakmampuan dan kurangnya pengetahuan mereka untuk menjadi seorang pendidik dan pembimbing klinik yang baik dengan demikian maka Cangelosi et al (2009) merekomendasikan untuk diadakan suatu pelatihan sebagai upaya mempersiapkan perawat dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing klinik.

Kompetensi perawat gawat darurat : 



DAFTAR PUSTAKA

Alligood, M. R. & Tomey, Ann M. (2006).  Nursing Theorists and Their Work (6th ed.).  Maryland Heights, Missouri:  Mosby Elsevier.

Altmann, T. K. (2007). Evaluation Of The Seminal Work Patricia Benner: Theory Or Philosophy? Contemporary Nurs, 25(1-2), 114-123

Beecroft P, Dorey F, Wenten M (2008). Turnover Intention In New Graduate Nurses: A Multivariate Analysis. Journal of Advanced Nursing, 62, 1, 41-52.

Benner, P. (1984). From Novice To Expert: Excellence And Power In Clinical Nursing Practice. Menlo Park: Addison-Wesley, pp. 13-34

Berezuik, S. (2010). Mentoring in Emergency Care " 'Growing Our Own'. Emergency Nurse, 18(7).

Blair, W., & Smith, B. (2012). Nursing Documentation : Frameworks and barriers. Nursing Documentation, 41(2).

Brockopp, D. Y., & Tolsma, M. T. H. (2000). Dasar- Dasar Riset Keperawatan. Jakarta: EGC.

Brunero, S., & Parbury, J. S. (2010). The Effectiveness of Clinical Supervision in Nursing : An Evidenced Based Literature Review. Australian Journal of Advanced Nursing, 25(3), 86-94.

Bungin, M. B. (2011). Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Cangelosi, P. R., Crocker, S., & Sorrell, J. M. (2009). Expert to Novice : Clinicians Learning New Roles As Clinical Nurse Educators. Nursing Education Perspectives, 30(6), 367-371.

Cederbaum, J., & Klusaritz, H. A. (2009). Clinical Instruction : Using The Strenghts-Based Approach with Nursing Students. Journal of Nursing Education, 48(8), 422-428.

Cheung, R. Y.-M., & Au, T. K.-f. (2011). Nursing Students’ Anxiety and Clinical Performance. Journal of Nursing Education, 50(5).

Dahlke, S., Baumbusch, J., Affleck, F., & Kwon, J. Y. (2012). The Clinical Instructor Role In Nursing Education : A Structured Literature Review. Journal of Nursing Education, 51(12), 692-696.

Dharma, K. K. (2011). Metodologi Penelitian Keperawatan. Jakarta: Trans Info Media.

Depkes. (2005). Pedoman Pelayanan Keperawatan Gawat Darurat di Rumah Sakit. Retrieved. from.

Dracup and Crristopher. (2004). From Novice To Expert To Mentor:Shaping The Future. American Journal of Critical Care, 13, 448-450.

Ghony, M. D., & Almanshur, F. (2012). Metodologi Kualitatif. Yogjakarta: Ar Ruzz Media.

Gobet. F. & Chassy, P. (2006). Towards An Alternative To Benner’s Theory Of Expert Intuition In Nursing: A discussion paper. International Journal of Nursing Studies

Henderson S, Happel B, Martin T. (2007). Impact Of Theory And Clinical Placement On Undergraduate Students’ Theory And Nursing Knowledge, Skills And Attitudes. Int. J. Mental Health Nurs.16:116–125.

Hossein, K. M., Fatemeh, D., Fatemeh, O. S., Katri, V. J., & Tahereh, B. (2010). Teaching Style In Clinical Education : A Qualitative Study's Iranan Nursing Teacher's Experiences. Nurse Education in Practice, 10, 8-12.

Jones, M. P. (2007). Nursing expertise:a look at theory and LNCC certification exam Journal of Legal Nurse Consulting, 18(2), 12-15.

Kandari, F. A., Vidal, V. L., & Thomas, D. (2009). Assessing Clinical Learning Outcomes : A Descriptive Study Of Nursing Students In Kuwait. Nursing and Health Sciences, 11, 252-262.

Kantor, S. A. (2010). Pedagogical Change In Nursing Education : One Instructor's Experience. Journal of Nursing Education, 49(7), 414-417.

Kart, M. E. (2009). Relations Among Social Support, Burnout and Experiences of Anger : An Investigation Among Emergency Nurses. Nursing Forum, 44(3), 165-174.

Lambert, V., & Glacken, M. (2004). Clinical Supoort Roles : A Review Of The Literature. Nurse Education in Practice, 4, 177-183.

Latham C, Hogan M, Ringl K (2008) Nurses Supporting Nurses: Creating A Mentoring Program For Staff Nurses To Improve The Workforce Environment. Nursing Administration Quarterly. 32, 1, 27-39.

Levett-Jones T, Fahy K, Parsons K, Mitchell A. (2006). Enhancing Nursing Students’ Clinical Placement Experiences: A Quality Improvement Project. Contemp. Nurse; 23: 58–71.

Lockwood-Rayermann S. (2003). Preceptors, Leadership Style, And The Student Practicum Experience. Journal of Nurse Education.; 28: 247–249.

Lyneham, J., Parkinson,C., & Denholm, C. (2008). Explicating Benner’s Concept of Expert Practice: Intituition In Emergency Nursing. Journal of Advanced Nursing, 64. 380-387.

Mahmoodi, S. (1997). Teaching Guides for Medical Teachers and Allied Health. Boostan Publisher, Tehran. pp. 167–168.

Moleong, L. J. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Parsh, B. (2010). Characteristics of Effective Simulated Clinical Experience Instructors : Interview With Undergraduate Nursing Students. Journal of Nursing Education, 49(10), 569-572

Prastowo, A. (2012). Metode Penelitian Kualitatif Dalam Perspektif Rancangan Penelitian. Yogjakarta: Ar- Ruzz Media.

Professional Standards of Practice For Licensed Practical Nurses. (2010). Columbia British: College of Licensend Practical Nurses of British Columbiao. Document Number)

Polit, D. F., & Hungler, B. P. (1997). Essentials of Nursing Research (Vol. ). New York: Lippincott.

Polit, D.F., & Beck, C.T. (2010). Nursing Research : Principles and Methods (Vol 7),   New York: Lippincott

Rahim. M.A. (2000). Managing conflict in organization. Greenwood publishing group
.
Ramritu, P. L. & Barnard, A. (2001).New nurse graduates’ understanding of  competence.International Nursing Review 48(1), 47-57.

Reid, D. H. (2010). The Experienced Critical Care RN's Perception of New Graduate RNs Competence in Critical Care Using Benner's Novice to Expert. Gardner-Webb University School Of Nursing, Boiling Springs North Carolina.

RSSA. 2012. Standar Pelayanan dan Sistem Kendali Mutu di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum. Malang: Rumah Sakit Umum Saiful Anwar Instalasi Gawat Darurat

Ryan-Nicholls, & Kimberley. (2004). Preceptor Recruitment And Retention: The Preceptor Partnership Is The Most Effective Means Of Ensuring That Students Integrate Professionaltheory With Clinical Practice, But A Growing Lack Of Nurse Preceptors May Threaten The Process. The Canadian Nurse(6), 18-22.
.
Schriver, J. A., Talmadge, R., Chuong, R., & Hedges, J. R. (2003). Emergency Nursing : Historical , Current, and Future Roles. Academic Emergency Medicine 10(7), 798 - 804.

Severinsson, E. (2010). Evaluation of the Clinical Supervision and Professional Development of Student Nurses. Journal of Nursing Management 18 : 669 – 677.

Shin, K. R. (2000). The Meaning of The Clinical Learning Experience of Korean Nursing Students. Journal of Nursing Education, 39(6), 259.

Speziale, H. J. S., & Carpenter, D. R. (2007). Qualitative Research In Nursing. Philadelpihia: Lippincot Williams & Wilkins.

Spooner-Lane, R. (2004). The Influence of Work Stress And Work Support on Butnout In Public Hospital Nurses. Queensland University of Technology, Queensland.

Tang, F. i., Chou, S. m., & Chiang, H. h. (2005). Student's Perception Of Effectivie and Ineffectuve Clinical Instructor. Journal of Nursing Education, 44(4), 187.

Tanriverdi, G., & Katar, T. (2009). Problems Experienced by Midwifery and Nursing Students in Turkey During Clinical Practice and Their Recommended Solutions to The Problem International Journal of Caring Sciences, 2(1).

Tilley, D. D. S. (2008). Competency In Nursing : A Concept Analysis. Journal of Nursing Education, 39(2), 58-64

Ulrich, B. (2011). From novice to expert. Nephrology Nursing Journal, 38(1), 9.

Walklin, L., (2002). Teaching and Learning in Future and Adult Education. Nelson Thornes Ltd., United Kingdom. pp. 260–261.

World Health Organization. Surgical care at the district hospital. Geneva,WHO, 2011 (http://www.who.int/surgery/publications/en/SCDH.pdf, accessed 30 Oktober 2012).

Zieber, M. P., & Hagen, B. (2009). Interpersonal Biundaries in Clinical Nursing Education : An Exploratory Canadian Qualitative Study. Nurse Education in Practice, 9, 356-360.

Zilembo M, Monterosso L. (2008). Nursing Students’ Perceptions Of Desirable Leadership Qualities In Nurse Preceptors: A Descriptive Survey. Contemp. Nurse. 27: 194–206.


Minggu, 01 Maret 2020

KONSEP GAWAT DARURAT


Konsep Keperawatan Kegawatdaruratan
Oleh
Merina Widyastuti,M.Kep

Pelayanan gawat darurat
Pelayanan gawat darurat merupakan salah satu komponen pelayanan di rumah sakit yang dilaksanakan instalasi gawat darurat. Adapun tugas dari instalasi gawat darurat adalah menyelenggarakan asuhan medis dan asuhan keperawatan serta pelayanan pembedahan darurat yang dibutuhkan oleh penderita dalam waktu segera untuk menyelamatkan kehidupannya (Marquis & Huston, 2010).
Instalasi Gawat Darurat yang merupakan pintu utama sebuah rumah sakit diharapkan mampu memberikan pelayanan darurat dengan standar yang tinggi kepada masyarakat (RSSA, 2012). Angka morbiditas dan mortalitas pasien dengan kondisi gawat tergantung pada cepat dan tepatnya pelayanan pertama yang didapatkan di instalasi gawat darurat. Menurut data WHO pada tahun 2011 mencatat bahwa 30 % kasus kematian pasien di pelayanan gawat darurat disebabkan karena cedera , dan 45 % karena penyakit dalam. Namun belum ada riset yang pernah dilakukan untuk mencatat pula kepuasan pasien terhadap pelayanan gawat darurat di Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari standar pelayanan yang diberikan oleh instalasi gawat darurat secara umum di Indonesia. Kesiapan IGD serta sistem pelayanan gawat darurat yang terpadu antara Fasilitas kesehatan satu dengan lainnya, akan memberikan nilai tambah dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan, tidak hanya terhadap kasus Gawat Darurat sehari-hari, tetapi juga sekaligus kesiapan bila setiap saat terjadi bencana di wilayah Indonesia.
Penanggulangan gawat darurat menekankan respon cepat dan tepat dengan prinsip Time Saving is Life and Limb Saving. Tujuan dari pelayanan gawat darurat ini adalah untuk memberikan pertolongan pertama bagi pasien yang datang dan menghindari berbagai resiko, seperti: kematian , menanggulangi korban kecelakaan, atau bencana lainn yang langsung membutuhkan tindakan. Pelayanan Unit Gawat Darurat adalah salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan di sebuah rumah sakit. Pelayanan pada Unit Gawat Darurat untuk pasien yang datang akan langsung dilakukan tindakan sesuai dengan kebutuhan dan prioritasnya. Dengan demikian harapan hidup dan tingkat keberhasilan yang akan dicapai dari suatu pelayanan gawat darurat sesuai dengan standar pelayanan yang dimiliki. Pelayanan di tingkat Rumah Sakit Pelayanan gawat darurat meliputi suatu system terpadu yang dipersiapkan mulai dari IGD, HCU, ICU dan kamar jenazah serta rujukan antar RS mengingat kemampuan tiap-tiap rumah sakit untuk penanganan efektif (pasca gawat darurat) disesuaikan dengan Kelas Rumah Sakit.

Definisi Kegawatan
Kegawatan adalah suatu keadaan yang menimpa seseorang yang dapat menyebabkan sesuatu yang mengancam jianya dalam arti memerlukan pertolongan tepat, cermat dan cepat bila tidak maka seseorang tersebut dapat mati atau menderita cacat.

Definisi Mati
Resusitasi mutakhir telah membawa perubahan-perubahan pada definisi kematian. Adapun beberapa definisi kematian adalah sebagai berikut.
1.   Mati batang otak
Kematian batang otak didefinisikan sebagai hilangnya seluruh fungsi otak, termasuk fungsi batang otak, secara ireversibel. Tiga tanda utama manifestasi kematian batang otak adalah koma dalam, hilangnya seluruh reflex batang otak, dan apneu. Adapun ciri yang lain adalah Tidak ada respon cahaya, tidak ada refleks kornea, Tidak ada pernapasan spontan, Tidak ada sikap tubuh normal, Tidak ada refleks muntah/refleks batuk
2.    Mati klasik
Mati klasik dalam hal ini dapat berarti mati klinis lalu menjadi mati biologis. Mati klinis adalah henti nafas (tidak ada gerak nafas spontan) ditambah henti sirkulasi (jantung) total dengan semua aktivitas otak terhenti, tetapi tidak ireversibel. Pada masa dini kematian inilah, pemulaian resusitasi dapat diikuti dengan pemulihan semua fungsi sistem organ vital termasuk fungsi otak normal, asalkan diberi terapi optimal.
Mati biologis (kematian semua organ) selalu mengikuti mati klinis bila tidak dilakukan resusitasi jantung paru (RJP) atau bila upaya resusitasi dihentikan. Mati biologis merupakan proses nekrotisasi semua jaringan, dimulai dengan neuron otak yang menjadi nekrotik setelah kira-kira 1 jam tanpa sirkulasi, diikuti oleh jantung, ginjal, paru dan hati yang menjadi nekrotik selama beberapa jam atau hari.

Definisi Unit Gawat Darurat
Unit gawat darurat menurut Depkes (2005) adalah unit pelayanan rumah sakit yang memberikan pelayanan pertama pada pasien dengan ancaman kematian dan kecacatan secara terpadu dengan melibatkan berbagai multidisiplin.
Sedangkan menurut Rumah Sakit Saiful Anwar (2012) mengatakan instalasi gawat darurat merupakan pintu utama sebuah rumah sakit yang diharapkan mampu memberikan pelayanan darurat dengan standar yang tinggi kepada masyarakat.

Prioritas Utama Penyebab Kegawatan
Semua keadaan yang mengakibatkan kegawatan yang menyangkut jalan napas, fungsi napas, fungsi sirkulasi, fungsi otak dan kesadaran seperti pada penyakit tertentu, obat-obatan narkotika atau reaksi anafilaktosis dan trauma.

Definisi Keperawatan Kegawatdaruratan
Rangkaian kegiatan praktik keperawatan kegawatdaruratan yang diberikan oleh perawat yang kompeten untuk memberikan asuhan keperawatan di ruang gawat darurat.
Kegawatdaruratan dalam UU Keperawatan no 38 2014 diatur pada Pasal 35 yaitu Dalam keadaan darurat untuk memberikan pertolongan pertama, Perawat dapat melakukan tindakan medis dan pemberian obat sesuai dengan kompetensinya.
(1)    Pertolongan pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk menyelamatkan nyawa Klien dan mencegah kecacatan lebih lanjut.
(2)    Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan keadaan yang mengancam nyawa atau kecacatan Klien.
(3)    Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Perawat sesuai dengan hasil evaluasi berdasarkan keilmuannya.
(4)    Ketentuan lebih lanjut mengenai keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

Kemampuan Petugas dan Profil Perawat Unit Gawat Darurat
Kemampuan minimal petugas di unit gawat darurat (UGD) menurut Depkes (1990) adalah :
1.      Membuka & membebaskan jalan nafas (airway)
2.      Memberikan ventilasi pulmoner & oksigenisasi (breathing)
3.      Memberikan sirkulasi artificial dengan jalan massage jantung luar (circulation)
4.      Menghentikan perdarahan, balut bidai, transportasi, pengenalan & penggunaan obat resusitasi, membuat & membaca rekaman EKG.
5.      Mampu mengatasi pasien : syok, gawat nafas, gagal jantung paru otak, kejang, koma, perdarahan, kolik, status asthmatikus, nyeri hebat daerah pinggul & kasus ortopedi.
6.      Mampu melaksanakan pencatatan & pelaporan yan askep .
7.      Mampu berkomunikasi : intern, ekstern

Perawat yang bekerja di Instalasi Gawat Darurat mempunyai tuntutan dan profil sebagai berikut :
1.         Tuntutan harus dapat mengkaji dengan cepat sambil merencanakan intervensi serta berkolaborasi dengan dokter gawat darurat dalam rentang waktu yang relatif singkat.
2.         Tuntutan mendokumentasikan tindakan medis dan tindakan keperawatan termasuk waktu sesuai dengan standar yang disetujui.
3.         Orang terdekat dengan pasien
4.         Paling mengetahui perkembangan pasien saat dirawat, tanda – tanda kegawatan
5.         Mampu mengenal gejala dan pertolongan sebelum dokter datang
6.         Bertanggung jawab atas perkembangan dan tindakan yang telah dilakukan  pencatatan
7.         Berfikir dan berinisiatif melihat gejala pasien syok hipovolemik, interpretasi data  syok, produk urine, sirkulasi perifer, kehausan, kesadaran, atur posisi pasien, berikan oksigen, hangatkan perifer

Filosofi Dasar Pertolongan Pertama Gawat Darurat
1.      Universal
Kondisi kegawatan bisa terjadi kepada siapa saja, dan sifatnya luas karena disebabkan oleh apa saja yang dapat mengancam jalan napas, fungsi napas dan sirkulasi
2.      Penanganan oleh siapa saja
Penanganan kegawatan dapat dilakukan oleh siapa saja baik oleh awam umum seperti guru, pedagan atau awam khusus seperti polisi. Pertolongan segera diberikan oleh siapa saja yang menemukan pasien tersebut
3.      Penyelesaian berdasarkan masalah
Penanganan gawat darurat ditujukan pada pembebasan jalan napas, pengembalian fungsi napas dan sirkulasi serta fungsi otak. Adapun penyelesaian didasarkan pada apa yang menjadi causa kondisi kegawatan seperti kondisi trauma atau penyakit dalam. 

Prinsip Pertolongan Pertama Gawat Darurat
1.         Penanganan cepat dan tepat
2.         Pertolongan segera diberikan oleh siapa saja yang menemukan pasien tersebut
4.         Resusitasi diakhiri jika diketahui kemudian bahwa sesudah dimulai resusitasi, pasien ternyata berada dalam stadium suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan lagi, atau hampir dapat dipastikan bahwa pasien tidak akan memperoleh kembali fungsi serebalnya yaitu sesudah selama ½- 1 jam terbukti tidak adanya nadi pada normotermia tanpa resusitasi jantung dan paru.

Primary Survey
Yaitu deteksi cepat dan koreksi segera terhadap kondisi fungsi organ vital yang terancam. Dalam waktu kurang dari 2- 5 menit (pediatri : 7 menit) dalam mengatasi kondisi pasien gawat penolong harus mampu menyimpulkan kondisi kegawatannya tanpa dukungan alat bantu diagnostic. Diantara tindakan yang dllakukan saat primarry survey adalah
1.   Pastikan kondisi tempat pertolongan aman bagi pasien dan penolong
2.   Cek kesadaran pasien
 A (Alert) Coba bangunkan korban dengan suara normal. Bila korban tetap tidak sadar setelah dibangunkan maka lanjut ke poin V
V (Verbal) Cobalah memanggil-manggil korban dengan berbicara keras di telinga
korban ( pada tahap ini jangan sertakan dengan menggoyang atau menyentuh
pasien) jika tidak merespon lanjut ke P
P(Pain)Cobalah beri rangsang nyeri pada pasien, yang paling mudah adalah
menekan bagian putih dari kuku tangan (di pangkal kuku), selain itu dapat juga
dengan menekan bagian tengah tulang dada (sternum) dan juga areal diatas mata
(supra orbital)
U –> Unresponsive : Setelah diberi rangsang nyeri tapi pasien masih tidak bereaksi
maka pasien berada dalam keadaan unresponsive
  1. Call for Help, mintalah bantuan kepada masyarakat di sekitar untuk menelpon ambulans
4.   Memeriksa keadaan jalan napas dan fungsi napas dengan
a.    Look : Lihat apakah ada gerakan dada (gerakan bernapas), apakah gerakan tersebut simetris
b.   Listen : Dengarkan apakah ada suara nafas normal, dan apakah ada suara nafas tambahan yang abnormal (bisa timbul karena ada hambatan sebagian).
c.    Feel : Rasakan hembusan napas
  1. Memeriksa fungsi sirkulasi dengan cek perdarahan eksternal, internal, kaji syok perfusi dingin, nadi cepat, lemah, CRT,  memeriksa nadi karotis selama 10 detik, bila tidak teraba maka lakukan RJP.
  2. Memeriksa disability : kesadaran, trauma kepala

Secondary Survey
Adalah mencari perubahan fisik anatomis yang dapat berkembang menjadi gawat dan mengancam jiwa jika tidak segera diatasi. Dilakukan setelah primery survey tuntas, Dilakukan dengan alat. Pada kasus trauma setiap pemeriksaan selalu dimulai dengan pertanyaan : DECAPBLS (Deformitas, Ekskoriasi,Confusi, Abrasi, Penestrasi, Bullae/burn, Laserasi, Swelling) sedang pada dugaan fraktur selalu dimulai dengan pertanyaan PIC (Pain, Instabilitas, Crepitasi) Perhatikan tanda vital

Triage
Tindakan memilah-milah korban sesuai dengan tingkat kegawatannya untuk memperoleh prioritas tindakan. Pengelompokan korban yang berdasarkan atas berat ringannya trauma/penyakit serta kecepatan penanganannya atau pemindahannya.  Prioritas adalah penentuan mana yg harus didahulukan mengenai penanganan dan pemindahan
Tindakan memilah-milah korban sesuai dengan tingkat kegawatannya untuk memperoleh prioritas tindakan. Pengelompokan korban yang berdasarkan atas berat ringannya trauma/penyakit serta kecepatan penanganannya atau pemindahannya.  Prioritas adalah penentuan mana yg harus didahulukan mengenai penanganan dan pemindahan
1.    Gawat darurat – merah,
Korban dlm keadaan mengancam nyawa bila tdk segera ditolong atau korban yang membutuhkan stabilisasi. Misal : pasien syok dengan berbagai kausa, gangguan pernapasan, trauma kepala dengan pipil anisokor, perdarahan eksternal masif, gangguan jantung yang mengancam jiwa, luka bakar > 50 % atau luka bakar pada area thoraks.
Merah dalam hal ini misalnya pada pasien distress napas, luka tusuk dada, hipotensi, Combustio tingkat 2 > 25%, Problem kejiwaan yang serius
2.    Gawat tidak darurat – putih
Kelompok pasien parah dimana pertolongan tidak mempunyai arti bagi penyelamatan jiwanya.
3.    Tidak gawat, darurat- kuning,
Kelompok korban yang memerlukan pengawasan ketat tetapi dapat ditunda sementara atau korban tidak gawat memerlukan pertolongan medik untuk mencegah lebih gawat atau mencegah cacat. Misal : fraktur multipel. Fraktur femur, luka bakar luas, gangguan kesadaran/ trauma kepala, luka bakar minor, pada pasien patah tulang besar, trauma torak dan abdomen, laserasi luas, trauma bola mata
4.    Tidak gawat, tidak darurat – hijau,
Kelompok korban yang tidak memerlukan pengobatan atau pemberian pengobatan dapat ditunda korban memerlukan tindakan medis tdk segera misalnya pada pasien kontusio dan laserasi otot ringan, combustio Tk II < 20% (kecuali daerah muka dan tangan)
5.    Meninggal – hitam
Pasien yg meninggal/Death on Arrival. Mati atau jelas cedera fatal.
Tidak mungkin diresusitasi.

Tanggung Jawab tim triage :
a.         Mencegah kerusakan berlanjut/ bertambah parah
b.        Memilah-milah korban
c.         Melindungi korban


Proses Keperawatan KegawatDaruratan
1.    Pengkajian : Data dikumpulkan
2.    Diagnosa : Data dianalisa untuk mengidentifikasi masalah pasien
3.    Perencanaan : Suatu rencana tindakan untuk dikembangkan
4.    Implementasi : Rencana dilaksanakan dalam tindakan
5.    Evaluasi : Hasil implementasi dievaluasi
6.    Dokumentasi


Klasifikasi Pasien
1.       Pasien Gawat Darurat  (Merah): Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya. Cedera berat yang perlukan tindakan dan transport segera : gagal nafas, cedera torako-abdominal, cedera kepala / maksilo-fasial berat, Shok atau perdarahan berat, luka bakar berat.
2.       Pasien Gawat Tidak Darurat  (Kuning) : Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat, misalnya kanker stadium lanjut. Cedera yang dipastikan tidak akan mengalami ancaman jiwa dalam waktu dekat : cedera abdomen tanpa shok, cedera dada tanpa gangguan respirasi,fraktura mayor tanpa shok, cedera kepala / tulang belakang leher,luka bakar ringan.
3.       Pasien Darurat Tidak Gawat : Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba, tetapi tidak mĂȘngancam nyawa dan anggota badannya, misanya luka sayat dangkal.
4.       Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat (Hijau) Misalnya pasien dengan ulcus tropiurn, TBC kulit, dan Cedera minor yang tidak membutuhkan stabilisasi segera : cedera jaringan lunak, fraktura dan dislokasi ekstremitas,cedera maksilo-fasial tanpa gangguan jalan nafas, gawat darurat psikologis.
5.       Kecelakaan (Accident) : Suatu kejadian dimana terjadi interaksi berbagai factor yang datangnya mendadak, tidak dikehendaki sehinga menimbulkan cedera (fisik. mental, sosial)

Sifat pasien gawat darurat
1.   Perlu pertolongan segera, cepat, tepat dan aman
2.   Mempunyai masalah patologis, psikososial, lingkungan, keluarga
3.   Tidak sabar menunggu informasi
4.   Unik

Profil Perawat gawat darurat
1.   Orang terdekat dengan pasien
2.   Paling mengetahui perkembangan pasien saat dirawat tanda – tanda kegawatan
3.   Mampu mengenal gejala dan pertolongan sebelum dokter datang
4.   Bertanggung jawab atas perkembangan dan tindakan yang telah dilakukan pencatatan
5.   Berfikir dan berinisiatif  melihat gejala pasien syok hipovolemik interpretasi data  syok ? Produk urine, sirkulasi perifer, kehausan, kesadaran  atur posisi pasien, berikan oksigen, hangatkan perifer

Peran perawat sesuai lokakarya nasional keperawatan th 1993 :
1.   Sebagai tenaga pelaksana pelayanan keperawatan dimana meliputi : pemberi asuhan keperawatan selama 24 jam terus menerus berkesinambungan, turut serta dalam klb. (care giver) , pelindung pasien (advocate) , sebagai penasehat (counsellor), sebagai pendidik , sebagai koordinator , sebagai kolaborator ,sebagai konsultan , Merawat & menjaga keutuhan alat agar siap pakai , Sebagai operator untuk alat kedokteran : ekg, defibrilator, respirator, nebulizer, monitor jantung,
2.   Sebagai pengelola dalam bidang pelayanan keperawatan dan institusi pendidikan keperawatan
3.   Sebagai pendidik dalam ilmu keperawatan
4.   Sebagai peneliti
5.   Sebagai komunikator .

Fungsi Perawat Gawat Darurat
1.    Fungsi independen : fungsi mandiri berkaitan dengan pemberian asuhan (care)
2.    Fungsi dependen : fungsi yang didelegasikan sepenuhnya atau sebagian dari profesi lain
3.    Fungsi kolaboratif : Kerjasama saling membantu dlm program kes. (Perawat sebagai anggota Tim Kes.)

Faktor-faktor yang menjadi stressor bagi perawat dalam unit perawatan kritis
1.    Konflik interpersonal dengan perawat
2.    Memberi perawatan pada pasien sakit
3.    Isu-isu mengenai administrator dan manajer keperawatan seperti : pola komunikasi, pemantauan dan perencanaan staf, penghargaan termasuk gaji, promosi dan kesempatan memperoleh pendidikan.
4.    Isu etik yang berhubungan dengan pasien yang menjelang ajal
5.    Konflik interpersonal dengan dokter
  1. lingkungan instalasi gawat darurat yang penuh dengan tekanan beban kerja yang tinggi
  2. hubungan perawat dengan teman sejawat yang kurang harmonis
  3. tuntutan yang tinggi terhadap kemampuan perawat dalam melakukan pelayanan

Upaya Dan Solusi Di Instalasi Gawat Darurat (Schriver Et Al, 2003)
  1. memperbaiki beban rasio antara perawat dengan pasien
  2. mengembalikan fungsi tugas perawat sebagai pemberi pelayanan keperawatan kepada pasien beserta keluarganya
  3. mengembangkan sikap saling mendukung dan kekeluargaan antar sesama perawat dan dokter,
  4. membuat penjadwalan shift dengan lebih efisien
  5. meningkatkan kesejahteraan perawat serta ikut terlibat dalam pengembangan pendidikan keperawatan melalui praktek klinik

Kelompok kasus yang perlu penanganan segera karena adanya ancaman kecacatan
1. Fraktur tulang disertai cedera pada Persyarafan
2. Crush injury
3. Sindroma kompartemen


Seberapa sering pasien harus dikaji menurut The Joint Communication on Accreditation of Healthcare Organization (JCAHO)
•       Kebijakan setiap institusi
•       Dilakukan pengkajian ulang:
  1. Perubahan kondisi pasien
  2. Respon pasien dari setiap perawatan/ tindakan/pengobatan
  3. Penurunan kondisi pasien
  4. Respon pasien/keluarga dari setiap edukasi

Proses pendokumentasian pada tahap triage meliputi waktu dan datangnya alat transportasi, Keluhan utama saat pasien datang, pengkodean warna prioritas setelah ditriage dan  Intervensi awal yang diberikan. (Iyer & Camp, 2005)


DAFTAR PUSTAKA
RS SOETOMO-FK UNAIR. (2008). Materi Medis Teknis Standard Pelatihan GELS & PPGD. Surabaya
RS SOETOMO-FK UNAIR. (2008). Materi Pelatihan Perawat ICU. Surabaya.
Hudak & Gallo. (2000). Buku Ajar Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik. Jakarta : EGC

LATIHAN
Silakan anda baca kasus di bawah ini dan buatlah prioritas pertolongan yang harus anda dahulukan.
Terjadi sebuah kecelakaan bus pariwisata dengan penumpang 60 orang. Jumlah korban meninggal 5 orang, 5 luka berat dan 20 luka ringan. Rincian luka sebagai berikut :
  1. Terdapat luka terbuka di paha kanan disertai deformitas dan penonjolan tulang,  luka babras di tangan dan kaki, nadi 100 x/ menit , akral dingin, pucat, napas cepat , korban mengerang kesakitan.
  2. Mengalami penurunan kesadaran, terdapat perdarahan di hidung dan telinga kanan, racoon eyes, luka robek di kepala sekitar 5 cm dan mengeluarkan darah. Nadi 84 x/ menit, napas 20 kali/ menit , akral dingin dan pucat
  3. Mengalami penurunan kesadaran, terdapat fraktur depresi di kepala kanan, deformitas wajah , tangan kiri dan abrasi di kaki kanan. Nadi 100x/menit , rr 18 x/ menit
  4. Korban mengeluh sesak dan nyeri dada kanan, akral dingin dan pucat, terdapat jejas di dada sebelah kanan , terdapat gerakkan paradoksal di dada kanan. HR 110 x/ menit, korban tidak dapat berjalan sendiri.
  5. Korban mengeluh nyeri di abdomen, sesak napas, jejas pada perut sebelah kanan atas, akral dingin dan pucat, deformitas lengan bawah bagian kiri, nadi 110x/menit, rr 30 x/menit , korban tidak bisa berjalan sendiri.  



MATERI KONSEP GAWAT DARURAT : https://drive.google.com/file/d/169ntOS0zCE2nrTd4VGOYG2WQLdNUzkQ5/view?usp=sharing


LEGAL ETIK GAWAT DARURAT
https://drive.google.com/file/d/14o1zlRurOHIEPBhQUOSgVz0feOpTdfmb/view?usp=sharing


KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG IGD
https://drive.google.com/file/d/11ffj3kY0YRlt684vxxkJVsyZEt5pN6d_/view?usp=sharing










 TOPIK KULIAH : KEPERAWATAN HIV AIDS SHT oleh Merina Widyastuti  Untuk Mahasiswa STIKES Hang Tuah Surabaya VOLUNTARY COUNSELLING TEST HIV   ...