Materi silakan download : https://drive.google.com/file/d/1nLJ0_UMwawrk1g9ZT1A5VIsFRQFL_PR7/view?usp=sharing
Tampilkan postingan dengan label MATERI KULIAH KEPERAWATAN DASAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MATERI KULIAH KEPERAWATAN DASAR. Tampilkan semua postingan
Minggu, 14 Juni 2020
Rabu, 06 Mei 2020
KONSEP RASA AMAN DAN NYAMAN
KONSEP DASAR PEMENUHAN KEBUTUHAN RASA AMAN NYAMAN
OLEH
Merina Widyastuti, S.Kep.,Ns.,M.Kep
Setiap individu membutuhkan rasa nyaman. Kebutuhan
rasa nyaman ini dipersepsikan berbeda pada tiap orang. Ada yang mempersepsikan
bahwa hidup terasa nyaman bila mempunyai banyak uang. Ada juga yang indikatornya
bila tidak ada gangguan dalam hidupnya. Dalam konteks asuhan keperawatan ini,
maka perawat harus memperhatikan dan memenuhi rasa nyaman. Gangguan rasa nyaman
yang dialami klien diatasi oleh perawat melalui intervensi keperawatan.
Kondisi yang menyebabkan
ketidaknyamanan klien adalah nyeri. Setiap individu pernah mengalami nyeri. Nyeri
merupakan sensasi ketidaknyamanan yang bersifat individual. Klien merespon
terhadap nyeri yang dialaminya dengan beragam cara, misalnya berteriak,
meringis, dan lain-lain. Oleh karena nyeri bersifat subjektif, tidak ada dua
individu yang mengalami nyeri yang sama dan tidak ada dua kejadian nyeri yang
sama menghasilkan respon atau perasan yang identik pada seorang individu, maka
perawat meski peka terhadap sensasi nyeri yang dialami klien. Perawat
menggunakan berbagai intervensi untuk menghilangkan nyeri atau mengembalikan
kenyamanan. Untuk itu, diperlukan kemampuan perawat dalam mengidentifikasi dan
mengatasi rasa nyeri.
Nyeri merupakan kondisi
berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat sangat subjektif karena perasaan
nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya
orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang
dialaminya. Banyak teori berusaha untuk
menjelaskan dasar neurologis dari nyeri, meskipun tidak ada satu teori yang
menjelaskan secara sempurna bagaimana nyeri ditransmisikan atau diserap.
Masalah keperawatan terkait pemenuhan rasa aman dan nyaman adalah :
GANGGUAN
RASA NYAMAN (D 0074)
Ketidaknyamanan Pasca Partum 0075
Nyeri Kronis 0078
Nyeri Akut 0077
Nausea 0076
Nyeri Melahirkan 0079
Materi Kuliah :
https://drive.google.com/file/d/1VRWQGe9X-nCiT0P-xaOzgL_4cvhJaQ8v/view?usp=sharing
Minggu, 03 Mei 2020
KONSEP DASAR AKTIVITAS LATIHAN DAN MOBILISASI
KONSEP DASAR AKTIVITAS LATIHAN DAN MOBILISASI
OLEH
Merina Widyastuti,S.Kep.,Ns.,M.Kep
Konsep dasar dari mobilisasi adalah ditujukan pada pergerakan tubuh untuk mempertahankan diri dari cedera, dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari hari secara mandiri. Terkait konsep dasar mobilisasi ini maka tidakk terlepas dari konsep anatomi dan fisiologi pada sistem muskuloskeletal dan sistem persarafan. adapun sistem lain yang juga berpengaruh terhadap mobilisasi adalah sistem kardiovaskular dan sistem pernapasan, karena jika kita lihat jika ada gangguan pada sistem tersebut maka juga akan mempengaruhi aktivitas mobilisasi yang akan berdampak terhadap kemandirian untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup manusia.
Konsep dasar mobilisasi erat kaitannya dengan patien safety begitu juga dengan keselamatan perawat sebagai care giver. Untuk pasien akan berdampak pada perlindungan cedera , luka akibat tirah baring yang lama / dekubitus, kontraktur sampai pada atrofi otot dan atelektasis. Sedangkan pada perawat erat kaitannya dengan insiden nyeri punggung akibat memindahkan pasien.
Adapun masalah keperawatan yang terkait pada sistem ini adalah :
•
Hambatan mobilitas fisik
•
Keletihan
•
Hambatan
mobilitas di tempat tidur
•
Hambatan
mobilitas berkursi roda
•
Hambatan
kemampuan berpindah
•
Hambatan
berjalan
•
Defisit
perawatan diri : mandi
•
Defisit
perawatan diri Berpakaian
•
Defisit
perawatan diri Makan
•
Defisit
perawatan diri Eliminasi
•
Defisit
perawatan diri
•
Risiko sindrom disuse
•
Intoleransi
aktivitas
Tindakan intervensi keperawatan yang terkait pada konsep dasar aktivitas mobilisasi adalah mengajarkan ROM, memindahkan pasien dari tempat tidur , memberikan posisi pada pasien. Kesemuanya itu memerlukan teknik , ilmu dan kiat keperawatan sehingga mengurangi cedera pada perawat dan pasien.
Latihan soal
1. Sebutkan apa manfaat dari latihan fisik dan mobilisasi untuk kehidupan individu
2. Sebutkan dampak negatif imobilisasi pada sistem B1
3. Sebutkan dampak negatif imobilisasi pada sistem B2
4. Sebutkan dampak negatif imobilisasi pada sistem B3
5. Sebutkan dampak negatif imobilisasi pada sistem B4
6. Sebutkan dampak negatif imobilisasi pada sistem B5
7. Sebutkan dampak negatif imobilisasi pada sistem B6
8. Apa yang anda ketahui mengenai resiko sindrom disuses
9. Apa perbedaan antara masalah keperawatan intoleransi aktivitas dengan hambatan mobilitas fisik
10. Sebutkan kondisi fisik pada sistem persarafan yang mempengaruhi aktivitas dan latihan.
Referensi :
•
NANDA.
(2018). Diagnosis Keperawatan Jakarta: EGC.
•
Kurniawidjaja,
L. M., Purnomo, E., Maretti, N., & Pujiriani, I. (2014). Pengendalian
Risiko Ergonomi Kasus Low Back Pain pada Perawat di Rumah Sakit. Majalah
Kedokteran Bandung, 46(4).
•
PPNI,
T. P. S. D. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DewaN
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
•
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2010). Fundamental
of Nursing. Jakarta: Elsevier.
•
Rosdahl,
C. B., & Kowalsi, M. T. (2015). Buku Ajar Keperawatan Dasar (Vol. 3).
Jakarta: EGC.
•
Wilkinson,
J. M. (2016). Diagnosis keperawatan : diagnosis NANDA-1, intervensi NIC,
Hasil Noc (Vol. 10). Jakarta: EGC.
Sabtu, 25 April 2020
KONSEP ELIMINASI URIN
KONSEP ELIMINASI URIN
Oleh
Merina Widyastuti,
S.Kep.,Ns.,M.Kep
Struktur
Anatomi Fisiologi Sistem perkemihan
Ginjal
Bentuknya
seperti biji kacang, jumlahnya ada dua di kiri dan kanan. Ginjal
terletak di kedua sisi medulla spinalis, disamping kolumna vertebralis, di
depan otot pinggang , dibalik rongga peritoneum. Ginjal kiri lebih besar dari
ginjal kanan. Ginjal kanan terletak lebih rendah karena posisi hati berada di
atasnya.
Nefron
merupakan unit fungsional ginjal yang membentuk urin. Nefron tersusun atas
glomerulus kapsula bowman, tubulus konvolusi proksimal, lengkung henle, tubulus
distal dan duktus.
Sekitar 20 –
25 % curah jantung bersirkulasi tiap menit melalui ginjal
Glomerulus
merupakan lokasi filtrasi awal dan awal pembentukan urin. Glomerulus menyaring
dengan kecepatan 125 ml/ menit.
Protein
besar dan sel darah tidak akan dapat melewati filtrasi glomerulus. Adanya
protein besar / proteinuria merupakan tanda cedera glomerular
Sekitar 99%
filtrat diabsorbsi kembali ke dalam plasma
dan 1 % sisanya dieksresikan sebagai urine. Walaupun keluaran bergantung
pada asupan , keluaran urine dewasa normal adalah 1500 – 1600cc/hari. Keluaran urin
yang kurang dari 30cc/jam mengindikasikan gangguan ginjal
Ginjal
mempertahankan sel darah merah dengan menghasilkan hormon eritropoietin. Eritropoietin
berfungsi di dalam sumsum tulang untuk memproduksi dan mematangkan sel darah
merah serta memperpanjang usia sel darah merah yang sudah matang. Pasien dengan
gagal ginjal kronis tidak dapat memproduksi hormon ini dalam jumlah yang cukup
sehingga rentan mengalami anemia
Ginjal
mempengaruhi tekanan darah dengan menghasilkan renin. Renin dihasilkan saat
aliran darah ke ginjal menurun . Renin akan mengubah angiotensinogen
(diproduksi di hati) menjadi angiotensin I. Kemudian angiotensin I diubah menjadi angiotensin II di
paru paru. Angiotensin II menyebabkan vasokonstriksi dan pelepasan aldosteron
di korteks adrenal ginjal. Aldosteron akan
menyebabkan retensi air dan meningkatkan volume darah.
Ginjal
mempengaruhi regulasi kalsium dan fosfat dengan memproduksi substansi yang
mengubah vitamin D menjadi bentuk yang aktif. Klien dengan gangguan ginjal kronis
akan rentan dengan penyakit tulang akibat gangguan absorbsi kalsium dan menjadi
demineralisasi tulang
Ureter
Ureter adalah tabung yang berasal dari ginjal dan
bermuara di kandung kemih. Panjangnya sekitar 25 cm dan diameternya 1,25 cm.
Bagian atas ureter berdilatasi dan melekat pada hilus ginjal, sedangkan bagian
bawahnya memasuki kandung kemih pada suudut posterior dasar kandung kemih.
Urine dari ureter menuju kandung kemih adalah urine
steril.
Urine didorong melewati ureter dengan gelombang
peristaltik yang terjadi sekitar 1-4 kali per menit dalam bentuk semprotan. Obstruksi
di dalam ureter seperti batu ginjal akan menimbulkan gerakkan peristaltic yang
kuat sebagai usaha untuk menghilangkan obstruksi di kandung kemih sehingga
sering menimbulkan nyeri yang disebu kolik renal.
Pada pertemuan ureter dan kandung kemih dalam posisi
oblique melalui kandung kemih posterior selain itu terdapat lipatan membrane
mukosa yang bertindak sebagai katub guna mencegah refluks urine kembali ke
ureter sehingga mencegah penyebaran infeksi dari kandung kemih ke atas.
Kandung kemih
Kandung kemih (vesika urinaria) adalah kantung
muscular tempat urine bermuara di ureter. Ketika kosong atau setengah terisi,
kandung kemih terletak dibelakang simfisis pubis. Pada pria, kandung kemih
terletak diantara kelenjar prostat dan rectum. Pada wanita,kandung kemih
terletak di antara uterus dan vagina.
Dinding kandung kemih sangat elastic sehingga mampu
menahan regangan yang sangat besar. Saat penuh,kandung kemih bisa melebihi
simfisis pubis, bahkan bisa setinggi umbilikus.
Tekanan di dalam kandung kemih biasanya rendah
walaupun sedang terisi sebagian sehingga hal ini melindungi dari sisi bahaya
infeksi.
Uretra
Uretra membentang dari kandung kemih sampai meatus
uretra.Panjang uretra pada pria sekitar 20 cm dan membentang dari kandung kemih
sampai ujung penis. Uretra pria terdiri atas tiga bagian, yaitu uretra pars
prostatika, uretra pars membranosa, dan uretra pars spongiosa.
Pada wanita, panjang uretra sekitar 4-6,5 cm dan
membentang dari kandung kemih sampai lubang di antara labia minora, 2,5 cm di
belakang klitoris. Karena uretranya yang pendek, wanita lebih rentan mengalami
infeksi saluran kemih. Bakteri mudah memasuki uretra dari area perineum
Referensi
Proses
Pembentukan Urine
Beberapa
struktur otak yang mempengaruhi fungsi kandung kemih meliputi korteks serebral,
thalamus, hipotalamus, dan batang otak.
Berkemih normal
melibatkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi sfinghter uretra dan otot
panggul yang terkoodinasi
Kandung kemih normalnya
menampung 600 ml urine dan dengan volume 150 -200 ml pada dewasa dan 50 -100 ml
pada anak anak sudah cukup untuk merasakan keinginan berkemih.
Jika volume kandung
kemih terisi dan terus bertambah maka kandung kemih akan merengang dan
mengirimkan impuls sensorik ke pusat mikturisi di korda spinalis bagian sacrum.
Impuls dari
pusat mikturisi akan merespon atau mengabaikan dorongan berkemih tersebut
sehingga berkemih berada di control volunteer .
Jika individu
memilih respon untuk berkemih maka sfinghter eksternal akan berelaksasi dan reflex
mikturisi akan merangsang otot detrusor untuk berkontraksi sehingga terjadi
pengosongan urine. Jika individu memilih respon untuk mengabaikan maka sfinghter
eksternal akan tetap berkontraksi dan menghambat reflek mikturisi
Referensi
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2010). Fundamental of Nursing.
Elsevier.
Minggu, 29 Maret 2020
KONSEP CAIRAN DAN ELEKTROLIT
KONSEP CAIRAN DAN ELEKTROLIT
Kompetensi yang harus didapatkan :
1. Komposisi cairan pada tubuh manusia
2. Fungsi cairan dan elektrolit
3. Fisiologi cairan pada tubuh manusia : proses difusi, osmosis, tekanan osmotik, tekanan hidrostatik
4. Kebutuhan cairan tubuh
5.Konsep defisit volume cairan
6. Konsep kelebihan volume cairan
7. Intervensi keperawatan pada gangguan kebutuhan cairan
8. Perhitungan tetes infus
MATERI KULIAH : https://bit.ly/2WQFZAX
Kamis, 19 Maret 2020
KONSEP TERAPI OKSIGEN
KONSEP TERAPI OKSIGEN
Kebutuhan
fisiologis memiliki prioritas tertinggi dalam hirarki maslow. Seorang individu
yang memiliki beberapa kebutuhan yang tidak terpenuhi secara umum lebih dulu
mencari kebutuhan fisiologis (Maslow,1970). Misalnya seseorang yang kekurangan
makanan, keselamatan, dan cinta biasanya mencari makanan sebelum mencari cinta.
hal ini dikarenakan kebutuhan fisiologis merupakan hal yang penting untuk
bertahan hidup. Sedangkan manusia memiliki delapan macam kebutuhan fisiologis
yakni kebutuhan oksigen, cairan, nutrisi, temperatur, eliminasi, tempat
tinggal, istirahat, dan kebutuhan seks. Salah satunya yang akan dibahas dalam
makalah ini adalah kebutuhan oksigenasi.
Oksigen
merupakan kebutuhan fisiologis yang paling penting. Tubuh bergantung pada
oksigen dari waktu ke waktu untuk bertahan hidup. Beberapa jaringan seperti
otot skelet, dapat bertahan beberapa waktu tanpa oksigen melalui metabolisme
anaerob, sebuah proses dimana jaringan ini menyediakan energi mereka sendiri
tanpa adanya oksigen. Jaringan yang melakukan hanya metabolisme aerob,
prosesnya membentuk energi dengan adanya oksigen, bergantung secara total pada
oksigen untuk bertahan hidup. Seperti yang diketahui Oksigen (O2) adalah
satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme untuk mempertahankan
kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. Sedangkan Oksigenasi adalah
peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung Oksigen (O2)
kedalam tubuh serta menghembuskan Karbondioksida (CO2) sebagai hasil
sisa oksidasi. Kekurangan oksigen dalam beberapa menit saja dapat mengakibatkan
kerusakan-kerusakan yang tak dapat diperbaiki lagi, dan untuk jangka waktu yang
pendek dapat mengakibatkan kematian.
Oksigen secara adekuat diterima dari
lingkungan ke dalam paru-paru, pembuluh darah, dan jaringan. Pada beberapa
titik dalam kehidupannya, klien berisiko untuk tidak dapat memenuhi kebutuhan
oksigen mereka. Kebutuhan tersebut mungfkin akut, seperti pada henti jantung,
atau kronik, seperti pada penyakit emfisema. Tindakan keperawatan untuk
memenuhi kebutuhan oksigen mempunyai rentang dari kondisi darurat dengan
resusitasi jantung-paru untuk henti jantung sampai tindakan pendukung seperti
pemberian oksigen pada klien dengan penyakit paru selama berolahraga.
Anatomi
Sistem Pernafasan
Saluran Nafas Atas
1.
Hidung
- Terdiri atas bagian eksternal
dan internal
- Bagian eksternal menonjol dari
wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago
- Bagian
internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga
hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut
septum
- Rongga
hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular
yang disebut mukosa hidung
- Permukaan
mukosa hidung dilapisi oleh sel-sel goblet yang mensekresi lendir secara
terus menerus dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia
- Hidung
berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru
- Hidung
juga berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta
menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru
- Hidung
juga bertanggung jawab terhadap olfaktori (penghidu) karena reseptor
olfaktori terletak dalam mukosa hidung, dan fungsi ini berkurang sejalan
dengan pertambahan usia
2.
Faring
- Faring atau tenggorok merupakan
struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring
- Faring dibagi menjadi tiga
region : nasal (nasofaring), oral (orofaring), dan laring (laringofaring)
- Fungsi
faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan
digestif
3.
Laring
- Laring atau organ suara
merupakan struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trakea
- Laring sering disebut sebagai
kotak suara dan terdiri atas :
- Epiglotis : daun katup kartilago yang menutupi ostium ke arah laring selama menelan
- Glotis : ostium antara pita suara dalam laring
- Kartilago tiroid : kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago ini membentuk jakun (Adam’s apple)
- Kartilago krikoid : satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam laring (terletak di bawah kartilago tiroid)
- Kartilago aritenoid : digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago tiroid
- Pita suara : ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi suara (pita suara melekat pada lumen laring)
- Fungsi
utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi
- Laring
juga berfungsi melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing dan
memudahkan batu
4. Trakea
- Disebut
juga batang tenggorok
- Ujung trakea bercabang menjadi dua
bronkus yang disebut karina
- Saluran
Nafas Bawah
- Bronkus
·
Terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri
·
Disebut bronkus lobaris kanan (3 lobus) dan bronkus
lobaris kiri (2 bronkus)
·
Bronkus lobaris kanan terbagi menjadi 10 bronkus
segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi menjadi 9 bronkus segmental
·
Bronkus segmentalis ini kemudian terbagi lagi menjadi
bronkus subsegmental yang dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki :
arteri, limfatik dan saraf
- Bronkiolus
- Bronkus
segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus
- Bronkiolus
mengadung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk
selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan napas
- Bronkiolus
Terminalis
- Bronkiolus
membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis (yang tidak mempunyai
kelenjar lendir dan silia)
- Bronkiolus
respiratori
- Bronkiolus
terminalis kemudian menjadi bronkiolus respiratori
- Bronkiolus
respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara jalan napas
konduksi dan jalan udara pertukaran gas
- Duktus
alveolar dan Sakus alveolar
- Bronkiolus
respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar
- Dan
kemudian menjadi alveoli
- Alveoli
- Merupakan
tempat pertukaran O2 dan CO2
- Terdapat
sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2
- Terdiri
atas 3 tipe :
- Sel-sel alveolar tipe I : adalah sel epitel yang membentuk dinding alveoli
- Sel-sel alveolar tipe II : adalah sel yang aktif secara metabolik dan mensekresi surfaktan (suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps)
- Sel-sel alveolar tipe III : adalah makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan
PARU
- Merupakan
organ yang elastis berbentuk kerucut
- Terletak
dalam rongga dada atau toraks
- Kedua
paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa
pembuluh darah besar
- Setiap
paru mempunyai apeks dan basis
- Paru
kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus oleh fisura interlobaris
- Paru
kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus
- Lobos-lobus
tersebut terbagi lagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen
bronkusnya
PLEURA
- Merupakan
lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis
- Terbagi
mejadi 2 :
- Pleura parietalis yaitu yang melapisi rongga dada
- Pleura viseralis yaitu yang menyelubingi setiap paru-paru - Diantara
pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura yang
berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan itu bergerak selama pernapasan,
juga untuk mencegah pemisahan toraks dengan paru-paru
- Tekanan
dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir, hal ini untuk
mencegah kolap paru-paru
Bernafas / pernafasan merupkan proses pertukaran udara diantara individu
dan lingkungannya dimana O2 yang dihirup (inspirasi) dan CO2 yang dibuang
(ekspirasi).
Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke paru-paru atau sebaliknya.
Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada perbedaan tekanan antara udara atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada ,mengembang, diafragma turun dan volume paru bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
a. Tekanan udara atmosfir
b. Jalan nafas yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat
Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke paru-paru atau sebaliknya.
Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada perbedaan tekanan antara udara atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada ,mengembang, diafragma turun dan volume paru bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
a. Tekanan udara atmosfir
b. Jalan nafas yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat
2. Difusi yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara
alveolus dan kapiler paru-paru.
Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi lebih besar ke darah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli sangat tipis dan dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat rapat, membran ini kadang disebut membran respirasi.
Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran respirasi sangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien tekanan oksigen antara alveoli dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40 mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
a. Luas permukaan paru
b. Tebal membran respirasi
c. Jumlah darah
d. Keadaan/jumlah kapiler darah
e. Afinitas
f. Waktu adanya udara di alveoli
Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi lebih besar ke darah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli sangat tipis dan dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat rapat, membran ini kadang disebut membran respirasi.
Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran respirasi sangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien tekanan oksigen antara alveoli dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40 mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
a. Luas permukaan paru
b. Tebal membran respirasi
c. Jumlah darah
d. Keadaan/jumlah kapiler darah
e. Afinitas
f. Waktu adanya udara di alveoli
3. Transpor yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan
tubuh dan sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler.
Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 % oksigen akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan sebagai oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel-sel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :
a. Curah jantung (cardiac Output / CO)
b. Jumlah sel darah merah
c. Hematokrit darah
d. Latihan (exercise)
Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 % oksigen akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan sebagai oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel-sel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :
a. Curah jantung (cardiac Output / CO)
b. Jumlah sel darah merah
c. Hematokrit darah
d. Latihan (exercise)
MATERI PERKULIAHAN
https://drive.google.com/file/d/1iZdCOCQLiYTxHIPn1e1pnUNZ_--C3kZl/view?usp=sharing
PEMBERIAN TERAPI OKSIGEN
https://drive.google.com/file/d/1v5hXSYtV7wzhck_qCYWc5Bn9D18NHHLw/view?usp=sharing
NEBULASI
https://drive.google.com/file/d/1zF0cIu04EPk_N1t2dKpkwXghsOJSd5Cn/view?usp=sharing
FISIOTERAPI DADA
https://drive.google.com/file/d/1QoC6sr0EqwfPif0oshGPTI6vpVTNXg5p/view?usp=sharing
https://drive.google.com/file/d/1iZdCOCQLiYTxHIPn1e1pnUNZ_--C3kZl/view?usp=sharing
PEMBERIAN TERAPI OKSIGEN
https://drive.google.com/file/d/1v5hXSYtV7wzhck_qCYWc5Bn9D18NHHLw/view?usp=sharing
NEBULASI
https://drive.google.com/file/d/1zF0cIu04EPk_N1t2dKpkwXghsOJSd5Cn/view?usp=sharing
FISIOTERAPI DADA
https://drive.google.com/file/d/1QoC6sr0EqwfPif0oshGPTI6vpVTNXg5p/view?usp=sharing
Langganan:
Postingan (Atom)
TOPIK KULIAH : KEPERAWATAN HIV AIDS SHT oleh Merina Widyastuti Untuk Mahasiswa STIKES Hang Tuah Surabaya VOLUNTARY COUNSELLING TEST HIV ...
-
KONSEP DASAR AKTIVITAS LATIHAN DAN MOBILISASI OLEH Merina Widyastuti,S.Kep.,Ns.,M.Kep Konsep dasar dari mobilisasi adalah ditujukan...
-
OBAT EMERGENCY DENGAN PENGGUNAAN SYIRINGE PUMP Obat emergency merupakan obat-obatan yang dibutuhkan untuk mengatasi keadaan gawat darura...
-
ARITMIA LETAL Penyebab henti jantung yang paling umum adalah gangguan listrik di dalam jantung. Jantung memiliki sistem konduksi listr...