Tampilkan postingan dengan label MATERI KULIAH KEPERAWATAN DASAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MATERI KULIAH KEPERAWATAN DASAR. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Mei 2020

KONSEP RASA AMAN DAN NYAMAN




KONSEP DASAR PEMENUHAN KEBUTUHAN RASA AMAN NYAMAN
OLEH

Merina Widyastuti, S.Kep.,Ns.,M.Kep


Setiap individu membutuhkan rasa nyaman. Kebutuhan rasa nyaman ini dipersepsikan berbeda pada tiap orang. Ada yang mempersepsikan bahwa hidup terasa nyaman bila mempunyai banyak uang. Ada juga yang indikatornya bila tidak ada gangguan dalam hidupnya. Dalam konteks asuhan keperawatan ini, maka perawat harus memperhatikan dan memenuhi rasa nyaman. Gangguan rasa nyaman yang dialami klien diatasi oleh perawat melalui intervensi keperawatan.
Kondisi yang menyebabkan ketidaknyamanan klien adalah nyeri. Setiap individu pernah mengalami nyeri. Nyeri merupakan sensasi ketidaknyamanan yang bersifat individual. Klien merespon terhadap nyeri yang dialaminya dengan beragam cara, misalnya berteriak, meringis, dan lain-lain. Oleh karena nyeri bersifat subjektif, tidak ada dua individu yang mengalami nyeri yang sama dan tidak ada dua kejadian nyeri yang sama menghasilkan respon atau perasan yang identik pada seorang individu, maka perawat meski peka terhadap sensasi nyeri yang dialami klien. Perawat menggunakan berbagai intervensi untuk menghilangkan nyeri atau mengembalikan kenyamanan. Untuk itu, diperlukan kemampuan perawat dalam mengidentifikasi dan mengatasi rasa nyeri.
Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya. Banyak teori berusaha untuk menjelaskan dasar neurologis dari nyeri, meskipun tidak ada satu teori yang menjelaskan secara sempurna bagaimana nyeri ditransmisikan atau diserap.
Masalah keperawatan terkait pemenuhan rasa aman dan nyaman adalah : 

GANGGUAN RASA NYAMAN (D 0074)
Ketidaknyamanan Pasca Partum   0075
Nyeri Kronis                 0078
Nyeri Akut                    0077
Nausea                           0076
Nyeri Melahirkan        0079


Materi Kuliah :
https://drive.google.com/file/d/1VRWQGe9X-nCiT0P-xaOzgL_4cvhJaQ8v/view?usp=sharing

Minggu, 03 Mei 2020

KONSEP DASAR AKTIVITAS LATIHAN DAN MOBILISASI

KONSEP DASAR AKTIVITAS LATIHAN DAN MOBILISASI
OLEH 
Merina Widyastuti,S.Kep.,Ns.,M.Kep


Konsep dasar dari mobilisasi adalah ditujukan pada pergerakan tubuh untuk mempertahankan diri dari cedera, dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari hari secara mandiri. Terkait konsep dasar mobilisasi ini maka tidakk terlepas dari konsep anatomi dan fisiologi pada sistem muskuloskeletal dan sistem persarafan. adapun sistem lain yang juga berpengaruh terhadap mobilisasi adalah sistem kardiovaskular dan sistem pernapasan, karena jika kita lihat jika ada gangguan pada sistem tersebut maka juga akan mempengaruhi aktivitas mobilisasi yang akan berdampak terhadap kemandirian untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup manusia. 


Konsep dasar mobilisasi erat kaitannya dengan patien safety begitu juga dengan keselamatan perawat sebagai care giver. Untuk pasien akan berdampak pada perlindungan cedera , luka akibat tirah baring yang lama / dekubitus, kontraktur sampai pada atrofi otot dan atelektasis. Sedangkan pada perawat erat kaitannya dengan insiden nyeri punggung akibat memindahkan pasien. 

Adapun masalah keperawatan yang terkait pada sistem ini adalah : 
•       Hambatan mobilitas fisik
•       Keletihan
•       Hambatan mobilitas di tempat tidur
•       Hambatan mobilitas berkursi roda
•       Hambatan kemampuan berpindah
•       Hambatan berjalan
•       Defisit perawatan diri : mandi
•       Defisit perawatan diri Berpakaian
•       Defisit perawatan diri Makan
•       Defisit perawatan diri Eliminasi
•       Defisit perawatan diri
•       Risiko sindrom disuse
•       Intoleransi aktivitas

Tindakan intervensi keperawatan yang terkait pada konsep dasar aktivitas mobilisasi adalah mengajarkan ROM, memindahkan pasien dari tempat tidur , memberikan posisi pada pasien. Kesemuanya itu memerlukan teknik , ilmu dan kiat keperawatan sehingga mengurangi cedera pada perawat dan pasien. 




Latihan soal

1. Sebutkan apa manfaat dari latihan fisik dan mobilisasi untuk kehidupan individu
2. Sebutkan dampak negatif imobilisasi pada sistem B1
3.  Sebutkan dampak negatif imobilisasi pada sistem B2
4.  Sebutkan dampak negatif imobilisasi pada sistem B3
5. Sebutkan dampak negatif imobilisasi pada sistem B4
6.  Sebutkan dampak negatif imobilisasi pada sistem B5
7.  Sebutkan dampak negatif imobilisasi pada sistem B6
8. Apa yang anda ketahui mengenai resiko sindrom disuses
9. Apa perbedaan antara masalah keperawatan intoleransi aktivitas dengan hambatan mobilitas fisik
10. Sebutkan kondisi fisik pada sistem persarafan yang mempengaruhi aktivitas dan latihan.




Referensi : 

•       NANDA. (2018). Diagnosis Keperawatan Jakarta: EGC.
•       Kurniawidjaja, L. M., Purnomo, E., Maretti, N., & Pujiriani, I. (2014). Pengendalian Risiko Ergonomi Kasus Low Back Pain pada Perawat di Rumah Sakit. Majalah Kedokteran Bandung, 46(4).
•       PPNI, T. P. S. D. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DewaN Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
•       Potter, P. A., & Perry, A. G. (2010). Fundamental of Nursing. Jakarta: Elsevier.
•       Rosdahl, C. B., & Kowalsi, M. T. (2015). Buku Ajar Keperawatan Dasar (Vol. 3). Jakarta: EGC.
•       Wilkinson, J. M. (2016). Diagnosis keperawatan : diagnosis NANDA-1, intervensi NIC, Hasil Noc (Vol. 10). Jakarta: EGC.




Sabtu, 25 April 2020

KONSEP ELIMINASI URIN

KONSEP ELIMINASI URIN
Oleh
Merina Widyastuti, S.Kep.,Ns.,M.Kep


Struktur Anatomi Fisiologi Sistem perkemihan

Ginjal
Bentuknya seperti biji kacang, jumlahnya ada dua di kiri dan kanan. Ginjal terletak di kedua sisi medulla spinalis, disamping kolumna vertebralis, di depan otot pinggang , dibalik rongga peritoneum. Ginjal kiri lebih besar dari ginjal kanan. Ginjal kanan terletak lebih rendah karena posisi hati berada di atasnya.
Nefron merupakan unit fungsional ginjal yang membentuk urin. Nefron tersusun atas glomerulus kapsula bowman, tubulus konvolusi proksimal, lengkung henle, tubulus distal dan duktus.
Sekitar 20 – 25 % curah jantung bersirkulasi tiap menit melalui ginjal
Glomerulus merupakan lokasi filtrasi awal dan awal pembentukan urin. Glomerulus menyaring dengan kecepatan 125 ml/ menit.
Protein besar dan sel darah tidak akan dapat melewati filtrasi glomerulus. Adanya protein besar / proteinuria merupakan tanda cedera glomerular
Sekitar 99% filtrat diabsorbsi kembali ke dalam plasma  dan 1 % sisanya dieksresikan sebagai urine. Walaupun keluaran bergantung pada asupan , keluaran urine dewasa normal adalah 1500 – 1600cc/hari. Keluaran urin yang kurang dari 30cc/jam mengindikasikan gangguan ginjal  
Ginjal mempertahankan sel darah merah dengan menghasilkan hormon eritropoietin. Eritropoietin berfungsi di dalam sumsum tulang untuk memproduksi dan mematangkan sel darah merah serta memperpanjang usia sel darah merah yang sudah matang. Pasien dengan gagal ginjal kronis tidak dapat memproduksi hormon ini dalam jumlah yang cukup sehingga rentan mengalami anemia
Ginjal mempengaruhi tekanan darah dengan menghasilkan renin. Renin dihasilkan saat aliran darah ke ginjal menurun . Renin akan mengubah angiotensinogen (diproduksi di hati) menjadi angiotensin I. Kemudian  angiotensin I diubah menjadi angiotensin II di paru paru. Angiotensin II menyebabkan vasokonstriksi dan pelepasan aldosteron di korteks adrenal ginjal.  Aldosteron akan menyebabkan retensi air dan meningkatkan volume darah.
Ginjal mempengaruhi regulasi kalsium dan fosfat dengan memproduksi substansi yang mengubah vitamin D menjadi bentuk yang aktif. Klien dengan gangguan ginjal kronis akan rentan dengan penyakit tulang akibat gangguan absorbsi kalsium dan menjadi demineralisasi tulang   

Ureter
Ureter adalah tabung yang berasal dari ginjal dan bermuara di kandung kemih. Panjangnya sekitar 25 cm dan diameternya 1,25 cm. Bagian atas ureter berdilatasi dan melekat pada hilus ginjal, sedangkan bagian bawahnya memasuki kandung kemih pada suudut posterior dasar kandung kemih.
Urine dari ureter menuju kandung kemih adalah urine steril.
Urine didorong melewati ureter dengan gelombang peristaltik yang terjadi sekitar 1-4 kali per menit dalam bentuk semprotan. Obstruksi di dalam ureter seperti batu ginjal akan menimbulkan gerakkan peristaltic yang kuat sebagai usaha untuk menghilangkan obstruksi di kandung kemih sehingga sering menimbulkan nyeri yang disebu kolik renal.  
Pada pertemuan ureter dan kandung kemih dalam posisi oblique melalui kandung kemih posterior selain itu terdapat lipatan membrane mukosa yang bertindak sebagai katub guna mencegah refluks urine kembali ke ureter sehingga mencegah penyebaran infeksi dari kandung kemih ke atas.

Kandung kemih
Kandung kemih (vesika urinaria) adalah kantung muscular tempat urine bermuara di ureter. Ketika kosong atau setengah terisi, kandung kemih terletak dibelakang simfisis pubis. Pada pria, kandung kemih terletak diantara kelenjar prostat dan rectum. Pada wanita,kandung kemih terletak di antara uterus dan vagina.
Dinding kandung kemih sangat elastic sehingga mampu menahan regangan yang sangat besar. Saat penuh,kandung kemih bisa melebihi simfisis pubis, bahkan bisa setinggi umbilikus.
Tekanan di dalam kandung kemih biasanya rendah walaupun sedang terisi sebagian sehingga hal ini melindungi dari sisi bahaya infeksi.

Uretra
Uretra membentang dari kandung kemih sampai meatus uretra.Panjang uretra pada pria sekitar 20 cm dan membentang dari kandung kemih sampai ujung penis. Uretra pria terdiri atas tiga bagian, yaitu uretra pars prostatika, uretra pars membranosa, dan uretra pars spongiosa.
Pada wanita, panjang uretra sekitar 4-6,5 cm dan membentang dari kandung kemih sampai lubang di antara labia minora, 2,5 cm di belakang klitoris. Karena uretranya yang pendek, wanita lebih rentan mengalami infeksi saluran kemih. Bakteri mudah memasuki uretra dari area perineum


Proses Pembentukan Urine
Beberapa struktur otak yang mempengaruhi fungsi kandung kemih meliputi korteks serebral, thalamus, hipotalamus, dan batang otak.
Berkemih normal melibatkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi sfinghter uretra dan otot panggul yang terkoodinasi
Kandung kemih normalnya menampung 600 ml urine dan dengan volume 150 -200 ml pada dewasa dan 50 -100 ml pada anak anak sudah cukup untuk merasakan keinginan berkemih.
Jika volume kandung kemih terisi dan terus bertambah maka kandung kemih akan merengang dan mengirimkan impuls sensorik ke pusat mikturisi di korda spinalis bagian sacrum.
Impuls dari pusat mikturisi akan merespon atau mengabaikan dorongan berkemih tersebut sehingga berkemih berada di control volunteer .

Jika individu memilih respon untuk berkemih maka sfinghter eksternal akan berelaksasi dan reflex mikturisi akan merangsang otot detrusor untuk berkontraksi sehingga terjadi pengosongan urine. Jika individu memilih respon untuk mengabaikan maka sfinghter eksternal akan tetap berkontraksi dan menghambat reflek mikturisi



Referensi

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2010). Fundamental of Nursing. Elsevier.



Minggu, 29 Maret 2020

KONSEP CAIRAN DAN ELEKTROLIT


KONSEP CAIRAN DAN ELEKTROLIT


Kompetensi yang harus didapatkan :

1. Komposisi cairan pada tubuh manusia
2. Fungsi cairan dan elektrolit
3. Fisiologi cairan pada tubuh manusia : proses difusi, osmosis, tekanan osmotik, tekanan hidrostatik
4. Kebutuhan cairan tubuh
5.Konsep defisit volume cairan
6. Konsep kelebihan volume cairan
7. Intervensi keperawatan pada gangguan kebutuhan cairan
8. Perhitungan tetes infus



MATERI KULIAH : https://bit.ly/2WQFZAX

Kamis, 19 Maret 2020

KONSEP TERAPI OKSIGEN

KONSEP TERAPI OKSIGEN



Kebutuhan fisiologis memiliki prioritas tertinggi dalam hirarki maslow. Seorang individu yang memiliki beberapa kebutuhan yang tidak terpenuhi secara umum lebih dulu mencari kebutuhan fisiologis (Maslow,1970). Misalnya seseorang yang kekurangan makanan, keselamatan, dan cinta biasanya mencari makanan sebelum mencari cinta. hal ini dikarenakan kebutuhan fisiologis merupakan hal yang penting untuk bertahan hidup. Sedangkan manusia memiliki delapan macam kebutuhan fisiologis yakni kebutuhan oksigen, cairan, nutrisi, temperatur, eliminasi, tempat tinggal, istirahat, dan kebutuhan seks. Salah satunya yang akan dibahas dalam makalah ini adalah kebutuhan oksigenasi.
Oksigen merupakan kebutuhan fisiologis yang paling penting. Tubuh bergantung pada oksigen dari waktu ke waktu untuk bertahan hidup. Beberapa jaringan seperti otot skelet, dapat bertahan beberapa waktu tanpa oksigen melalui metabolisme anaerob, sebuah proses dimana jaringan ini menyediakan energi mereka sendiri tanpa adanya oksigen. Jaringan yang melakukan hanya metabolisme aerob, prosesnya membentuk energi dengan adanya oksigen, bergantung secara total pada oksigen untuk bertahan hidup. Seperti yang diketahui Oksigen (O2) adalah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. Sedangkan Oksigenasi adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung Oksigen (O2) kedalam tubuh serta menghembuskan Karbondioksida (CO2) sebagai hasil sisa oksidasi. Kekurangan oksigen dalam beberapa menit saja dapat mengakibatkan kerusakan-kerusakan yang tak dapat diperbaiki lagi, dan untuk jangka waktu yang pendek dapat mengakibatkan kematian.
      Oksigen secara adekuat diterima dari lingkungan ke dalam paru-paru, pembuluh darah, dan jaringan. Pada beberapa titik dalam kehidupannya, klien berisiko untuk tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen mereka. Kebutuhan tersebut mungfkin akut, seperti pada henti jantung, atau kronik, seperti pada penyakit emfisema. Tindakan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan oksigen mempunyai rentang dari kondisi darurat dengan resusitasi jantung-paru untuk henti jantung sampai tindakan pendukung seperti pemberian oksigen pada klien dengan penyakit paru selama berolahraga.


Anatomi Sistem Pernafasan
Saluran Nafas Atas
1.      Hidung
  • Terdiri atas bagian eksternal dan internal
  • Bagian eksternal menonjol dari wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago
  • Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum
  • Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular yang disebut mukosa hidung
  • Permukaan mukosa hidung dilapisi oleh sel-sel goblet yang mensekresi lendir secara terus menerus dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia
  • Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru
  • Hidung juga berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru
  • Hidung juga bertanggung jawab terhadap olfaktori (penghidu) karena reseptor olfaktori terletak dalam mukosa hidung, dan fungsi ini berkurang sejalan dengan pertambahan usia
2.      Faring
  • Faring atau tenggorok merupakan struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring
  • Faring dibagi menjadi tiga region : nasal (nasofaring), oral (orofaring), dan laring (laringofaring)
  • Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan digestif
3.      Laring
  • Laring atau organ suara merupakan struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trakea
  • Laring sering disebut sebagai kotak suara dan terdiri atas :
    - Epiglotis : daun katup kartilago yang menutupi ostium ke arah laring selama menelan
    - Glotis : ostium antara pita suara dalam laring
    - Kartilago tiroid : kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago ini membentuk jakun (Adam’s apple)
    - Kartilago krikoid : satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam laring (terletak di bawah kartilago tiroid)
    - Kartilago aritenoid : digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago tiroid
    - Pita suara : ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi suara (pita suara melekat pada lumen laring)
  • Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi
  • Laring juga berfungsi melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batu
4.      Trakea
  • Disebut juga batang tenggorok
  •  Ujung trakea bercabang menjadi dua bronkus yang disebut karina
  1. Saluran Nafas Bawah
  1. Bronkus
·         Terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri
·         Disebut bronkus lobaris kanan (3 lobus) dan bronkus lobaris kiri (2 bronkus)
·         Bronkus lobaris kanan terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi menjadi 9 bronkus segmental
·         Bronkus segmentalis ini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus subsegmental yang dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki : arteri, limfatik dan saraf
  1. Bronkiolus
  • Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus
  • Bronkiolus mengadung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan napas
  1. Bronkiolus Terminalis
  • Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis (yang tidak mempunyai kelenjar lendir dan silia)
  1. Bronkiolus respiratori
  • Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respiratori
  • Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara jalan napas konduksi dan jalan udara pertukaran gas
  1. Duktus alveolar dan Sakus alveolar
  • Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar
  • Dan kemudian menjadi alveoli
  1.  Alveoli
  • Merupakan tempat pertukaran O2 dan CO2
  • Terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2
  • Terdiri atas 3 tipe :
    - Sel-sel alveolar tipe I : adalah sel epitel yang membentuk dinding alveoli
    - Sel-sel alveolar tipe II : adalah sel yang aktif secara metabolik dan mensekresi surfaktan (suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps)
    - Sel-sel alveolar tipe III : adalah makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan
PARU
  • Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut
  • Terletak dalam rongga dada atau toraks
  • Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa pembuluh darah besar
  • Setiap paru mempunyai apeks dan basis
  • Paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus oleh fisura interlobaris
  • Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus
  • Lobos-lobus tersebut terbagi lagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen bronkusnya
PLEURA

  • Merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis
  • Terbagi mejadi 2 :
    - Pleura parietalis yaitu yang melapisi rongga dada
    - Pleura viseralis yaitu yang menyelubingi setiap paru-paru
  • Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan itu bergerak selama pernapasan, juga untuk mencegah pemisahan toraks dengan paru-paru
  • Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir, hal ini untuk mencegah kolap paru-paru


Bernafas / pernafasan merupkan proses pertukaran udara diantara individu dan lingkungannya dimana O2 yang dihirup (inspirasi) dan CO2 yang dibuang (ekspirasi).
Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke paru-paru atau sebaliknya.
Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada perbedaan tekanan antara udara atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada ,mengembang, diafragma turun dan volume paru bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
a. Tekanan udara atmosfir
b. Jalan nafas yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat
2. Difusi yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara alveolus dan kapiler paru-paru.
Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi lebih besar ke darah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli sangat tipis dan dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat rapat, membran ini kadang disebut membran respirasi.
Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran respirasi sangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien tekanan oksigen antara alveoli dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40 mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
a. Luas permukaan paru
b. Tebal membran respirasi
c. Jumlah darah
d. Keadaan/jumlah kapiler darah
e. Afinitas
f. Waktu adanya udara di alveoli
3. Transpor yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan tubuh dan sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler.
Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 % oksigen akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan sebagai oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel-sel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :
a. Curah jantung (cardiac Output / CO)
b. Jumlah sel darah merah
c. Hematokrit darah
d. Latihan (exercise)




 TOPIK KULIAH : KEPERAWATAN HIV AIDS SHT oleh Merina Widyastuti  Untuk Mahasiswa STIKES Hang Tuah Surabaya VOLUNTARY COUNSELLING TEST HIV   ...